Membersihkan Diri Dari Penyakit Ruhani, Menuju Pribadi Akhlakul Kharimah
Penyakit ruhani ternyata lebih berbahaya daripada penyakit jasmani. Sebab tidak terlihat secara fisik, namun penderitanya akan membawa penyakit ini sampai ke akhirat. Bagaimana menyembuhkan penyakit ruhani? Simak laporan berikut dari Fordiba yang membahas penyakit ini.
Pada Ahad, 25 April yang lalu, Surau Baitul Amin kembali mengadakan kegiatan Fordiba, kependekan dari Forum Diskusi Baitul Amin. Fordiba di setiap kegiatannya mengusung berbagai tema untuk diskusi, dan tema diskusi untuk Fordiba yang lalu adalah ‘Membersihkan Penyakit Ruhani Menuju Akhlakul Kharimah’. Hadir sebagai pembicara tunggal pada kesempatan kali ini adalah Abang Prof. Budi Santoso. Sementara Abang Denny Syahbani berlaku sebagai moderator.
Memperhatikan tema yang diambil kali ini adalah penting, sebab apabila kita ingin merubah diri menjadi akhlakul kharimah seperti Baginda Rasullulah SAW, maka terlebih dahulu kita harus membersihkan diri dari penyakit-penyakit ruhani yang akan menghambat perjalanan hijrah kita. Abang Budi menerangkan ada dua macam penyakit. Yaitu penyakit jasmani dan penyakit ruhani. “90% penyakit jasmani berawal dari colon, atau usus besar yang selalu menyimpan sisa makanan yang tidak terbuang. Sisa makanan tersebut menjadi toxin, menempel di dinding usus, menjalar serta melumpuhkan ketiga fungsi toksifikasi” ujarnya pagi itu dalam membuka diskusi. Mengobati penyakit jasmani tentunya dengan berobat ke dokter, oleh sebab itu ilmuwan terus bekerja untuk mencari pengobatan yang terbaik dan juga demi kemakmuran umat manusia. Orang yang mengidap penyakit jasmani dapat terlihat secara kasat mata dari fisiknya.
Kemudian ada penyakit ruhani, penyakit yang di derita tidak secara fisik dan tidak nampak dari luar. Bahkan menurut Bang Budi, bisa saja si pengidap penyakit ruhani tidak sadar kalau ruhaninya tidak sehat. Penyakit ruhani terdiri dari hati, nafsu dan ruh. Lalu bagaimana mengobati penyakit ruhani? ”Penyakit ruhani hanya dapat disembuhkan oleh seorang Guru ruhani” terang Bang Budi. Beberapa contoh dari penyakit ruhani yang diterangkan oleh Bang Budi adalah penyakit nafsu yang materinya perut, farji dan dunia yang menjurus akhlak binatang, lawannya adalah akhlak ruhani. Kemudian ada penyakit hati materinya adalah prestise dan prestasi yang menjurus kepada akhlak setan lawannya adalah akhlak mukmin. Terakhir ada penyakit ruh materinya adalah surga, karomah, khasaf dan lain-lain yang menjurus pada akhlak iblis lawannya adalah akhlakul karimah yang khalis mukhlisin.
Bagaimana menyembuhkan diri kita dari penyakit-penyakit ruhani ini? Pertama yang harus dilakukan adalah mau mengakui dan ada keinginan kuat untuk menyembuhkan diri dari penyakit ruhani. Senang hidup bermewah-mewahan, iri hati, dengki juga bagian dari penyakit ruhani yang perlu dibuang jauh-jauh. Carilah seorang guru ruhani, agar kita mendapatkan hidayah ruhani. Beribadahlah dengan sungguh-sungguh, perbanyak bangun tengah malah untuk berdzikir dan sholat malam.
”Penyakit jasmani akan berdampak paling buruk pada kematian, sementara penyakit ruhani apabila tidak kita sembuhkan, akan kita bawa sampai mati dan sampai ke akhirat” tambah Bang Budi.
Semasa hidupnya, apabila seseorang mengidap penyakit ruhani, maka tingkah lakunya akan buruk. Namun bila ia bersih dari penyakit ruhani tingkah lakunya sehari-haripun akan menjadi baik juga.
Di akhir diskusi, Bang Budi mengajak kita untuk bersama-sama membersihkan diri dari penyakit ruhani, melihat dan mencontoh Rasullulah SAW sebagai panutan bagaimana kita berlaku sehari – hari. Dengan memiliki ruhani yang bersih, semoga kita dapat menjadi pribadi akhlakul kharimah yang unggul dunia dan akhirat. Amin ya rabbal alamin.
Festival Baitul Amin 2010, Festival Untuk Bersilaturahhim
Dalam rangka memperingati hari Maulid Nabi, Surau Baitul Amin menggelar Festival Baitul Amin 2010 pada Ahad, tanggal 13 Maret yang lalu. Kompetisi Freestyle Marawis, Khitanan Massal sampai bazaar dan pasar rakyat adalah sejumlah kegiatan pada hari itu.
Pukul 7.00 pagi, MC acara Abang Reza Hoesin dan Kak Leoni mempersilahkan Abang Fajrul Hidayat atau Bang Ajul panggilan akrabnya, selaku Ketua Panitia acara untuk naik ke panggung dan memberikan beberapa patah kata sambutan. “Festival ini digelar sebagai bentuk silaturahhim antar sesama”, ujar Bang Ajul dalam sambutannya yang kemudian disusul dengan pembacaan do’a dan dilanjutkan dengan penampilan dari grup marawis Al Hidayah, grup marawis cilik yang beranggotakan anak-anak berumur 6 sampai 10 tahun.
Seiring dengan penampilan pembuka, peserta bazar dan pasar rakyat telah berdatangan untuk mulai menata barang dagangan mereka. Tak kurang dari 53 stand bazar dan 20 pasar rakyat menyuguhkan berbagai macam dagangan. Aneka jajanan pasar, makanan tradisional, minuman dingin, mainan anak, pakaian sampai produk asuransi dan program kredit kendaraan bermotor terlihat memadati sebidang area bertenda di Lapangan Al Ghazeil, Surau Baitul Amin. Sponsor utama Festival Baitul Amin, Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Pertamina Region III, juga tidak ketinggalan. PKBL Pertamina menawarkan beragam perlengkapan sholat, bahan pakaian siap jahit hingga cemilan ringan seperti kerupuk.
Suasana pagi itu semakin meriah ketika tiga personil dari Debu hadir di lokasi untuk melakukan soundcheck. Pengunjung yang sudah datang dan personil dari Al Hidayah tidak ketinggalan memanfaatkan kesempatan ini untuk berfoto bersama. Satu lagu dibawakan secara penuh oleh personil Debu pada saat soundcheck. “You have a very good soundman!” puji Mustafa, sang vokalis, yang ditujukan untuk soundman Surau Baitul Amin, Abang Boy Nuskan setelah selesai melakukan soundcheck.
Sekitar pukul 8.00 pagi, selain Debu yang sedang melakukan sound check, di sisi lain Surau Baitul Amin sedang berlangsung acara khitanan massal bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Surau. Target peserta dari acara khitan massal ini adalah anak-anak yatim piatu atau anak-anak dari keluarga yang kurang mampu, oleh sebab itu khitanan massal ini tidak dipungut biaya sama sekali. Khitanan massal dikelola oleh Baitul Amin Medical Center, atau BAMC, sebuah unit medis yang bernaung dibawah Surau Baitul Amin. Tim dokter beranggotakan 16 orang, dibantu juga oleh para perawat, mulai mengkhitan 41 peserta yang mulai berdatangan sejak pukul 7.30 pagi. Sesuai tujuan dari Festival Baitul Amin, yaitu saling bersilaturahhim dengan sesama, tim dokter lulusan Universitas Islam Sultan Agung yang sudah lama tidak bertemu pun bersilaturahhim pada acara khitanan massal ini.
Ba’da sholat dzuhur, Kompetisi Freestyle Marawis segera dimulai. Tya Subiakto, konduktor handal, Iwan Wiradz, perkusionis senior, dan Tony Muharom, pelatih vokal pada acara pencari bakat Indonesian Idol bertindak sebagai juri. Para grup marawis peserta Kompetisi terlihat sangat kreatif dalam mengartikan maksud kata freestyle. Alat-alat musik marawis tradisional seperti gendang, dumbuk, marawis dipadukan dengan alat musik yang umum seperti drum, gitar listrik bahkan ada yang menggunakan deretan botol bekas, sapu lidi dan gentong. Hasil dari perpaduan unik ini adalah pertunjukan musik marawis yang dinamis, atraktif dan tidak membosankan. Kompetisi Freestyle Marawis semakin seru karena para pendukung dari kontestan ikut berjoget ketika grup yang didukungnya tampil. Mereka berjoget ramai-ramai di depan panggung, berjalan mengitari lapangan dengan membawa spanduk, bahkan ada berjoget ala Michael Jackson. “Kompetisi ini seru! Tahun depan bikin lagi dong kompetisi serupa” komentar salah seorang peserta penuh antusias ketika turun panggung. Untuk Kompetisi Freestyle Marawis, keluar sebagai Juara 1 adalah Al Fatimmiyah, sedangkan LB Production dan El Ikhwan masing-masing pulang membawa piala Juara 2 dan 3. Posisi Juara Favorit diraih oleh [ ]
Semakin malam, acara semakin meriah. Usai pembacaan pemenang, Dienul Amin Percussion dan Anshorman Marawisters naik ke panggung untuk mempertunjukkan penampilan terbaiknya sebagai band pembuka Debu, bintang tamu pada Festival Baitul Amin. Penonton yang sebagian besar adalah fans setia Debu, memadati areal di sekitar panggung, mencari posisi paling strategis untuk menonton penampilan band idolanya. Dinginnya malam dan kelelahan setelah beraktivitas sepanjang hari seperti tidak dihiraukan oleh mereka. Tidak mengecewakan penggemarnya, Debu tampil menakjubkan malam itu. Berbagai alat musik dari belahan dunia yang mereka pakai di panggung kembali menegaskan jati diri mereka sebagai band dengan world music. Selain kualitas vokal yang tetap prima disepanjang 13 lagu yang ia bawakan, Mustofa sang vokalis juga luwes dalam berkomunikasi dengan penonton. Diantara jeda lagu, ia selalu menyempatkan bercerita mengenai latar belakang atau filosofi dari lagu yang akan dibawakan selanjutnya. Menginjak pukul 23.00, Debu menutup penampilannya dengan lagu [ ]. Pengunjung yang tampak puas dengan penampilan dari Debu, satu per satu mulai beranjak meninggalkan Surau Baitul Amin.
Diawali dengan do’a, dan ditutup juga dengan do’a. Malam hari itu Do’a penutupan acara dipimpin oleh Kyai Imron dari Surau Baitul Amin. Pembacaan do’a tadi menandakan selesainya seluruh rangkaian acara Festival Baitul Amin tahun 2010. Semoga ada jalinan tali silaturahhim baru terbentuk dari Festival ini dan terus terjaga kedepannya.
Sependapat untuk tidak sependapat
Agree to disagree, istilahnya dalam bahasa Inggris. Sering kali diantara kita sesama umat muslim terjadi konflik hanya karena perbedaan pendapat. Mulai konflik yang skalanya kecil, sampai skala besar seperti perang antar suku. Memaksakan pendapat yang kita yakini paling benar, kepada orang lain. Padahal suatu permasalahan menurut saya adalah ibarat bola dunia. Di satu bagian sebagian penduduknya sedang mengalami malam, sementara di bagian sisi yang lain masih terang benderang karena mendapat pancaran sinar matahari. Kita berpijak pada bumi yang sama, namun mengalami siang dan malam yang berbeda.
Begitu pula halnya ketika kita berpendapat atau mengeluarkan argumen dan merasa bahwa pendapat kita adalah yang paling benar. Kita melupakan fakta bahwa suatu masalah pun dapat dipandang dari berbagai sudut. Kita melihatnya dari sudut A, sedangkan kawan kita melihat dari sudut B. Sudut pandang kita ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor paling dominan, seperti yang dijelaskan dalam salah satu sesi Pelatihan Sufi Thinking, adalah Paradigma, Mindset (cara pikir) dan Value (nilai-nilai) atau disingkat PMV.
Setiap orang tentunya mempunyai PMV yang berbeda-beda. Bagaimana ajaran keluarga, lingkungan dan berbagai hal lainnya membentuk PMV dari kita kecil sampai dewasa. Apabila kita tersinggung oleh perkataan yang dilontarkan oleh kawan kita, sebaiknya jangan langsung marah. Karena bisa saja menurut kawan kita, hal tersebut tidak dianggapnya bisa menyinggung.
Sebagai kaum muslimin, segala perselisihan yang terjadi diantara kita hendaknya dirujuk kembali kepada Al Quran dan Al Hadist. Hal ini sebagaimana diutarakan dalam firman Allah, Surat An Nisa ayat 59 yang artinya:
“Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”
Mengingat masing-masing individu dibesarkan secara berbeda-beda, perbedaan pendapat sebenarnya adalah hal yang wajar terjadi. Dan perbedaan pendapat ini tidak hanya terjadi antara manusia, namun juga diantara malaikat. Yaitu ketika seorang yang telah membunuh seratus orang, kemudian ia bertaubat dan pergi berhijrah lalu meninggal dunia dalam perjalanan. Terjadi perbedaan pendapat antara malaikat Rahmat dengan malaikat Adzab dalam menyikapinya. Malaikat Rahmat berpendapat bahwa orang ini adalah ahli surga karena telah bertaubat, sedang malaikat Adzab berpendapat bahwa orang ini adalah ahli neraka karena telah membunuh seratus orang dan belum berbuat kebaikan. Akhirnya Allah mengirimkan malaikat ketiga yang memutuskan perkara bahwa orang tersebut adalah ahli surga. Perbedaan pendapat dan sikap diantara kedua malaikat tersebut tidak sampai menyebabkan mereka berpecah belah, saling menghujat, bertikai dan saling menjatuhkan, justru mereka tetap saling menghormati dan menghargai. Kisah ini terdapat dalam riwayat-riwayat sahih.
Ayat Al Quran lain yang juga melarang kita untuk berselisih pendapat tercantum pada Surat Al Anfal ayat 46:
“Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.”
Kerugian dari berselisih pendapat antara lain menjauhkan rahmat Allah SWT atas diri kita, yang disebutkan pada Surat Huud ayat 188-199:
“Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berikhtilaf (berselisih pendapat). Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka … .”
Dengan berbekal ayat-ayat tersebut diatas, mari kita sebagai umat muslim saling menghargai perbedaan pendapat yang ada diantara kita. Hindari terjadinya konflik dan pertikaian hanya karena pendapat kita tidak sama. Sikapi perbedaan pendapat dengan toleransi. Ayo bersatu dalam keragaman dan membawa kaum muslim menuju kemenangan!
Baitul Amin Medical Center
Sebagai salah satu usahanya dalam meningkatkan pelayanan sosial kepada masyarakat sekitar, Baitul Amin Medical Center, sebuah klinik kesehatan diresmikan oleh H. Ahmad Khalik Fadjuani SH., ketua Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya pada tanggal 21 Juni 2008.
Baitul Amin Medical Center (”BAMC”), mulai beroperasi untuk masyarakat tepat satu hari setelah diresmikan. Ide awal untuk membuka klinik kesehatan sebenarnya sudah tercetus sejak lama oleh penggagas Yayasan, Prof. Dr. H. Kadirun Yahya. Namun karena satu dan lain hal, ide ini belum dapat direalisasikan.
Pada pertengahan tahun lalu dengan seizin ketua Yayasan H. Ahmad Khalik Fadjuani dan pengurus Surau Baitul Amin, H. Akhmad Syukran Bestari, SE., MMSi., BAMC pun resmi dibuka. BAMC tidak seperti klinik kesehatan lainnya, bukan bertujuan untuk mencari keuntungan semata, namun lebih kepada memberikan layanan kesehatan yang maksimal dengan harga yang terjangkau. Target pasien BAMC adalah sesama ikhwan Yayasan pada khususnya dan masyarakat sekitar Surau Baitul Amin Sawangan pada umumnya.
Klinik BAMC terdapat di bagian depan Surau Baitul Amin Sawangan. Saat ini BAMC didukung oleh tiga tenaga dokter dan dua tenaga perawat yang bergantian bertugas dari hari Senin sampai Sabtu, pukul 7 pagi dan tutup pukul 8 malam. Pelayanan kesehatan yang diberikan adalah pelayanan pemeriksaan kesehatan umum untuk anak kecil dan orang dewasa, pelayanan KB, bedah kecil, khitanan baik dengan laser atau dengan teknologi khitanan yang terkini, Smartklamp.
Harga yang dikenakan kepada para pasien tergolong lebih murah dibandingkan dengan klinik kesehatan sejenis yang terdapat di sekitar Sawangan maupun Jakarta. dr. Yusuf Wibisono, seorang dokter lulusan Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, dan ikhwan Yayasan yang bertugas di BAMC menerangkan, ”tarif untuk dokter termasuk obat hanya sekitar Rp. 25.000 sampai dengan Rp. 35.000 tergantung jenis obat yang diberikan. Umumnya pasien hanya cukup membayar Rp. 30.000 saja. Dengan harga segitu, pasien biasanya mendapatkan tiga sampai empat jenis obat.” dr. Yusuf melanjutkan, saat ini BAMC telah memiliki teknologi Smartklamp untuk pasien yang ingin dikhitan. Teknologi ini membuat hasil khitan tanpa jahitan, tanpa pendarahan, lebih praktis, dan pasien bisa langsung beraktivitas setelah dikhitan. Smartklamp cocok untuk dewasa maupun anak-anak. Tarif untuk khitan dengan Smartklamp pun amat terjangkau, hanya Rp. 400.000 saja. Sedangkan di rumah khitan umumnya tarif Smartklamp adalah sekitar Rp. 750.000, tambah dr. Yusuf.
Saat ini klinik BAMC menempati bagian depan Surau Baitul Amin Sawangan, dengan dua bilik. Satu bilik untuk praktek dokter dan satu bilik untuk pendaftaran yang di gabung dengan tempat pengambilan obat. Kedepannya, BAMC berencana menambahkan peralatan kesehatan seperti alat untuk USG, fasilitas rawat inap, fasilitas melahirkan sampai dengan mempunyai apotek sendiri. Semoga seiring berjalannya waktu, BAMC berharap dapat memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dengan peralatan yang lebih lengkap dan modern, namun tetap dengan harga yang terjangkau.
Artikel Sufi Thinking Reguler 28-28 Nov 09
Sufi Thinking, salah satu pelatihan yang paling dinantikan di Surau Baitul Amin, Sawangan kembali diadakan tepat satu hari setelah Hari Raya Idul Adha, pada tanggal 28-29 November 2009. Seperti pelatihan-pelatihan yang sebelumnya, pelatihan kali ini pun diliputi oleh rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang tinggi.
Pelatihan Sufi Thinking adalah salah satu dari sekian banyak pelatihan yang diadakan di Surau Baitul Amin. Namun pelatihan ini terbukti sebagai salah satu pelatihan yang paling ditunggu-tunggu.Hal ini dapat dilihat dari tingginya animo para ikhwan dari berbagai Surau atau IOP yang hendak mendaftar menjadi peserta. Bahkan dalam setiap pelatihan, selalu ada nama calon peserta di daftar tunggu.
Di penghujung bulan November ini, tepat satu hari setelah perayaan Hari Raya Idul Adha, Surau Baitul Amin kembali mengadakan Pelatihan Sufi Thinking Reguler. Ditengah masih ramainya suasana pemotongan hewan kurban, Pelatihan Sufi Thinking Reguler yang ke 27 diadakan. Peserta pada Pelatihan kali ini datang dari berbagai penjuru Indonesia seperti Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatera, Papua bahkan sampai dari negara tetangga Malaysia dengan total peserta 72 orang.
Hari Sabtu (28/11) pagi sebelum acara resmi dimulai, para peserta diwajibkan untuk melakukan pendaftaran ulang. Kemudian, acara secara resmi dibuka oleh pengurus III Surau Baitul Amin Abangda Akhmad Syukran Bestari, [ ] dengan membaca do’a dan memberikan kata sambutan. Bang Arie menjelaskan kepada peserta, bahwa Pelatihan ini bertujuan tidak hanya sebagai sarana silaturahim antar ikhwan tetapi juga untuk membentuk kita sebagai pribadi-pribadi Islam Khaffah sesuai cita-cita Mursyid Tarekat Naqshaybandiyah, YM. Drs. Ahmad Fajuani [ ].
Pelatihan kali ini mengambil tema ’Bersama Meraih Ridho Illahi’. Pada sesi pertama, ditayangkan video tentang perjuangan Rasullulah dalam menyebarkan syi’ar agama Islam dan betapa jayanya umat Islam pada jaman Beliau. Namun amat disayangkan, kondisi umat Islam pada jaman sekarang sudah jauh menurun. Hal ini disebabkan oleh berbagai kondisi, salah satunya adalah pertikaian diantara umat Islam itu sendiri. Pertikaian ini sering kali terjadi karena perbedaan fiqih antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Sedangkan apabila dikelompokkan ayat-ayat yang ada di Al-Quran, sesungguhnya fiqih (aturan, hukum) kecil sekali persentasinya, mungkin hanya sekitar 3%. Sisanya ada pada akidah sebesar 48,5% dan akhlak sebesar 48,5%.
Di sesi pertama, Abang Rahman Moenggah, SH., LLM. Mengajak peserta untuk mengenal apa itu paradigma, mind set dan bagaimana apabila kita bisa merubah paradigma kita, maka akan berubah juga prilaku kita menjadi manusia yang lebih baik. Abang Ramon, demikian beliau biasa dipanggil, menekankan pula dalam proses kita menjadi manusia yang lebih baik perlu mempunyai rujukan. Sebagai umat Islam, tentu rujukan kita tak lain tak bukan adalah Baginda Nabi Muhammad SAW. Proses merubah paradigma ini tidak mudah, karena hal tersebut sudah melekat pada diri kita hasil dari pendidikan dan budaya yang kita alami sejak kecil. Tapi apabila didasarkan dengan kecintaan kita pada Rasullulah dan menjadikan beliau sebagai tauladan, pastinya kita mampu.
Setelah sesi mengenai penjelasan apa itu paradigma dan menjadikan Rasullulah sebagai tauladan kita dalam menjadi manusia yang khusunul khatimah, peserta diajak masuk ke materi berikutnya, yaitu mengenal diri sendiri.
Di sesi ini, peserta diminta memilih satu diantara empat warna dasar yang paling disukai. Menjadi pemateri adalah Dr. Tun Kurniasih Bastaman, SpKj. atau akrab dipanggil Kak Tutun, di Surau Baitul Amin. Dengan mengenali diri dengan baik, kelebihan maupun kekurangan, kita dapat meningkatkan kelebihan kita dan mencari cara untuk memperbaiki kekurangan, demikian terang Kak Tutun sore itu. Peserta terlihat sangat bersemangat pada sesi ini, memisahkan diri dari kelompok khafilah yang telah dibentuk dan masuk pada kelompok sesuai dengan warna favorit. Para anggota dari masing-masing warna diminta untuk menuliskan berbagai kelebihan dan kekuarang yang mereka rasa sesuai dengan warna favorit. Setelah itu, mereka maju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasilnya. Kak Tutun dengan penuh canda kemudian menerangkan dari sisi ilmu psikologi, apa kelebihan dan kekuarangan dari masing-masing warna. Tak terasa waktu beranjak sore, sesi pengenalan diripun harus berakhir dan waktunya untuk melakukan ibadah sholat Ashar.
Selepas sholat Ashar, sesi dilanjutkan dengan materi Keteladanan Rasullulah. Adalah Abang Ir. Budi Rahmat Kardian pemateri pada sesi ini. Paradigma, mindset dan value atau nilai-nilai Islam ada landasan yang harus kita miliki. Karena sesungguhnya, sejak diangkat menjadi Rasul Allah, setiap perbuatan dan perkataan Rasul adalah Islam itu sendiri. Jika kita mampu untuk menjadi pribadi seperti muhammad, akan banyak replika muhammad-muhammad di muka bumi niscaya umat Islam akan menjadi umat yang jaya seperti pada jaman Nabi. Di akhir sesi, peserta menyadari bahwa menjadikan Rasullulah sebagai tauladan adalal hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Walaupun awalnya banyak argumen dan pernyataan yang mengatakan bahwa tidak mudah untuk menauladani Rasullulah, mengingat kita hidup di jaman yang berbeda dengan Beliau, namun setelah mendapat penjelasan bahwa yang kita perlukan hanya kemauan dan tekad yang kuat, tidak ada lagi keraguan diantara peserta.
Ba’da sholat Isya, diadakan acara api unggun dan peserta mendengarkan ’Review of the Day’ dari Abang Arie. Bang Arie kembali mengulang materi-materi yang telah disampaikan dari pagi hingga sore, dan menekankan pada perlunya kita bersyukur. Salah seorang peserta bertanya pada sesi Kak Tutun, “apa yang sebaiknya kita lakukan disaat mood kita sedang turun?” Pertanyaan ini dijawab kembali oleh Bang Arie, bahwa dalam keadaan apapun, kita perlu bersyukur. Acara api unggun malam itu diramaikan dengan berbagai pertunjukan dari masing-masing kelompok dan fasilitator.
Pada hari kedua, sesi pertama dibuka dengan materi Visi Misi yang dibawakan oleh Ab. Ardiansyah Aidil Arif. Sebagai manusia yang dilahirkan ke bumi, peserta diajak untuk mencari tahu apa visi misi pribadi mereka sebagai manusia, maupun sebagai hamba Allah. Sesi ini dilanjutkan dengan permainan diluar ruangan. Berbagai permainan yang telah disiapkan sedemikian rupa mengambil cerita dari hijrahnya Rasullulah dan para sahabat. Berbagai permainan ini dimaksud membuat peserta belajar bahwa dalam perjalanan kita menjadi pribadi yang khaffah tidaklah mudah. Diperlukan tekad yang kuat, lingkungan yang mendukung, strategi yang tepat serta kerja sama dari orang-orang di sekitar kita.
Di penghujung acara, Pelatihan Sufi Thinking Reguler ditutup dengan permainan lagi, kemudian peserta dan fasilitator saling bersalam-salaman. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan sangat terasa. Walaupun Pelatihan ini hanya berlangsung selama dua hari, namun rupanya meninggalkan kesan yang mendalam di diri peserta. Abang Taufik dari Jakarta menyampaikan kesan dan pesannya mengenai Pelatihan ini pada akhir acara, ”akhir pekan ini adalah akhir pekan yang terbaik dalam hidup saya. Karena pelatihan ini sangat bagus. Dampak kedepannya bukan hanya untuk saya tetapi juga untuk anak cucu saya”.
Apabila anda ikhwan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya dan belum mengikuti Pelatihan Sufi Thinking Reguler, jangan sampai ketinggalan. Baca terus www.baitulamin.org dan nantikan informasi mengenai jadwal Pelatihan Sufi Thinking Reguler berikutnya atau pelatihan-pelatihan lain yang pastinya sangat bermanfaat untuk kita.
Artikel Liputan Pelatihan Jurnalistik – edited
Versi edit.
—————————————————————————————–
Pelatihan Ikhwan di Yayasan Prof Dr. H. Kadirun Yahya :
Dari Ekonomi Perbankan Syariah Hingga Jurnalistik
Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya adalah wadah bagi pengamal Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah. Diantara sekian banyak tempat wirid dalam naungan Yayasan ini, salah satunya adalah di Surau Baitul Amin, yang berlokasi di Sawangan, Depok, Jawa Barat.
Selain berfungsi sebagai tempat kegiatan keagamaan, Surau juga mengembangkan potensi para ikhwannya melalui berbagai pelatihan seperti ekonomi syariah, parenting, sufi thinking, jurnalistik dan pelatihan lainnya. Pada awal Oktober 2009 misalnya, pelatihan penulisan diadakan untuk meningkatkan kemampuan menulis pengelola media internal yang tergabung dalam Baitul Amin Media Group.
Seiring dengan pesatnya perkembangan Surau Baitul Amin, baik dalam jumlah jamaah maupun kegiatan yang diadakan, H. Akhmad Syukran Bestari, SE, MMSi., Pengurus Surau Baitul Amin, menjelaskan perlu adanya sebuah media informasi dari Surau Baitul Amin kepada ikhwannya yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia bahkan di luar negeri. Diharapkan mereka bisa langsung mengetahui kegiatan apa saja yang sedang dan akan diselenggarakan. Maka, dibentuklah situs resmi Surau Baitul Amin, www.baitulamin.org pada tahun 2006 lalu.
”Mulanya, banyak ikhwan dari luar kota yang menelpon ke kantor kampus (Baitul Amin, red.) untuk menanyakan jadwal i’tikaf atau kegiatan pelatihan di Surau,” tutur Bang Arie, panggilan akrabnya. Di situs resmi ini, ikhwan dapat langsung mengakses berbagai informasi terkini dengan mudah dan cepat. Namun, seiring perkembangan ternyata situs ini saja dirasa tidak cukup. Surau Baitul Amin merasa perlu menerbitkan media-media informasi lainnya untuk memberikan berbagai macam informasi yang dibutuhkan oleh pemangku kepentingan (stakeholders). Baik informasi yang terkait dengan kegiatan ibadah maupun informasi mengenai kegiatan kesurauan lainnya.
Media cetak pertama yang lahir dibawah asuhan Surau Baitul Amin adalah Flights, terbitan yang khusus memuat tulisan dari para fasilitator pelatihan yang bernaung dibawah Federasi Fasilitator Sawangan, atau disingkat FIFAS. Tujuan dari Flights ini adalah agar para ikhwan di surau-surau seluruh daerah dapat memahami dan mencontoh kultur serta semangat positif yang terdapat di Surau Baitul Amin. Flights dalam peredarannya didampingkan dengan media cetak yang diterbitkan Surau Panca Budi, Medan yang sudah lebih lama terbit dan telah beredar secara nasional di seluruh surau di bawah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya. Setelah Flights, menyusul terbit Mozaik yang berbentuk buletin bulanan. Tujuan penerbitan Mozaik adalah memberikan pengetahuan dan informasi kepada masyarakat umum tentang aktivitas Surau Baitul Amin, dan kegiatan peribadatan yang diamalkan serta informasi mengenai kegiatan surau.
Menulis Berita itu Menarik
Dalam pelatihan jurnalistik, hadir sebagai pembicara Ir. Bambang Mulyantono, ikhwan sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Poultry Indonesia. Yang kedua adalah Ir. Irwan Kelana, wartawan senior harian umum Republika. Kedua pembicara ini menceritakan pengalaman pribadi mereka sebagai jurnalis, suka duka dan tak ketinggalan berbagi tips cara menulis berita yang sesuai dengan kaidah jurnalistik.
Pelatihan jurnalistik yang diikuti oleh sekitar 50 peserta dan panitia ini ternyata menarik perhatian para peserta, terlihat dengan antusias dan seriusnya mereka ketika diberikan tugas untuk membuat artikel. Walaupun waktu yang diberikan tidak banyak, namun para peserta berusaha menggunakan waktu semaksimal mungkin. ”Ternyata menulis berita itu menarik,” komentar salah seorang peserta. Selanjutnya peserta diharapkan bisa mempraktekkan penulisan berita di media-media yang diterbitkan Surau Baitul Amin.
Untuk mengetahui karya tulis peserta, pembaca Republika dapat mengunjungi situs www.baitulamin.org. (Rindy-Baitul Amin Sawangan)
Artikel Liputan Pelatihan Jurnalistik
Versi original, tanpa editan.
Rindy Tarisma, Jakarta, 9 Oktober 209
——————————————————————————————-
Dari Belajar Ilmu Thariqat Hingga Jurnalistik
Tharikat Naqsyabandiyah Prof. Dr. H. Kadirun Yahya mulai mengembangkan potensi para ikhwannya melalui berbagai pelatihan. Salah satunya adalah pelatihan dalam bidang jurnalistik.
Pada hari Minggu tanggal 4 Oktober 2009, di Surau Baitul Amin Jakarta, salah satu surau yang bernaung dibawah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, mengadakan Pelatihan Jurnalistik bagi para ikhwannya. Diadakannya pelatihan ini bertujuan melatih ketrampilan para ikhwannya dalam hal tulis menulis untuk mendukung situs resmi dan berbagai media cetak yang berada dibawah asuhan Surau Baitul Amin.
Seiring dengan pesatnya perkembangan Surau Baitul Amin, baik dalam jumlah jamaah maupun kegiatan yang diadakan, Abang Akhmad Syukran Bestari, SE, MMSi., selaku pengurus III Surau Baitul Amin bidang [*], merasa perlu adanya sebuah media informasi dari Surau Baitul Amin kepada ikhwannya yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia bahkan di luar negeri sehingga mereka bisa langsung mengetahui kegiatan apa saja yang sedang dan akan diselenggarakan. Maka dari itu, media pertama yang diciptakan adalah situs resmi Surau Baitul Amin, www.baitulamin.org.
”Banyak ikhwan dari luar kota yang menelpon ke kantor kampus (Baitul Amin, red.) untuk menanyakan jadwal i’tikaf atau kegiatan pelatihan di Surau”, tutur Bang Arie, paggilan akrabnya, pada pagi yang cerah itu. Di situs resmi ini, ikhwan dapat langsung mengakses berbagai informasi terkini dengan mudah dan cepat. Namun, seiring perkembangan zaman ternyata situs ini saja tidak cukup. Surau Baitul Amin merasa perlu menerbitkan media-media cetak lain untuk memberikan berbagai macam informasi. Baik informasi yang terkait dengan kegiatan ibadah maupun informasi mengenai kegiatan kesurauan lainnya.
Media cetak pertama yang lahir dibawah asuhan Surau Baitul Amin adalah Flights, media yang dibuat khusus memuat tulisan dari para fasilitator pelatihan yang bernaung dibawah Federasi Fasilitator atau FIFAS. Tujuan dari Flights ini adalah agar para ikhwan di surau-surau seluruh daerah dapat memahami dan mencontoh kultur serta semangat positif yang terdapat di Surau Baitul Amin, Jakarta. Flights dalam peredarannya didampingkan dengan media cetak keluaran Surau Panca Budi, Medan yang sudah lebih lama terbit dan telah beredar secara nasional di seluruh surau di bawah Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya. Setelah Flights, menyusul terbit Mozaik. Mozaik yang berbentuk buletin bulanan bertujuan memberikan pengetahuan dan informasi kepada masyarakat umum mengenai apa itu Surau Baitul Amin, serta kegiatan peribadahan yang diamalkan dan informasi mengenai kegiatan surau pada umumnya.
Pada pelatihan hari itu, hadir sebagai pembicara Ir. Bambang Mulyantono [*], redaktur dari Majalah Poultry dan Irwan Kelana, wartawan harian Republika. Kedua pembicara menceritakan pengalaman pribadinya sebagai jurnalis, suka duka dan tak ketinggalan berbagi tips cara menulis yang baik.
Pelatihan jurnalistik ternyata menarik perhatian para peserta, terlihat dengan antusias dan seriusnya para peserta ketika diberikan tugas untuk membuat artikel. Walaupun waktu yang diberikan tidak banyak, namun para peserta berusaha menggunakan waktu semaksimal mungkin.
Pada sore hari diiringi hujan, pelatihan jurnalistik berakhir. Para peserta pulang membawa ilmu baru yang semoga menjadi bekal mereka dalam dunia tulis menulis.