Posts tagged ‘sufi thinking’
Sependapat untuk tidak sependapat
Agree to disagree, istilahnya dalam bahasa Inggris. Sering kali diantara kita sesama umat muslim terjadi konflik hanya karena perbedaan pendapat. Mulai konflik yang skalanya kecil, sampai skala besar seperti perang antar suku. Memaksakan pendapat yang kita yakini paling benar, kepada orang lain. Padahal suatu permasalahan menurut saya adalah ibarat bola dunia. Di satu bagian sebagian penduduknya sedang mengalami malam, sementara di bagian sisi yang lain masih terang benderang karena mendapat pancaran sinar matahari. Kita berpijak pada bumi yang sama, namun mengalami siang dan malam yang berbeda.
Begitu pula halnya ketika kita berpendapat atau mengeluarkan argumen dan merasa bahwa pendapat kita adalah yang paling benar. Kita melupakan fakta bahwa suatu masalah pun dapat dipandang dari berbagai sudut. Kita melihatnya dari sudut A, sedangkan kawan kita melihat dari sudut B. Sudut pandang kita ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor paling dominan, seperti yang dijelaskan dalam salah satu sesi Pelatihan Sufi Thinking, adalah Paradigma, Mindset (cara pikir) dan Value (nilai-nilai) atau disingkat PMV.
Setiap orang tentunya mempunyai PMV yang berbeda-beda. Bagaimana ajaran keluarga, lingkungan dan berbagai hal lainnya membentuk PMV dari kita kecil sampai dewasa. Apabila kita tersinggung oleh perkataan yang dilontarkan oleh kawan kita, sebaiknya jangan langsung marah. Karena bisa saja menurut kawan kita, hal tersebut tidak dianggapnya bisa menyinggung.
Sebagai kaum muslimin, segala perselisihan yang terjadi diantara kita hendaknya dirujuk kembali kepada Al Quran dan Al Hadist. Hal ini sebagaimana diutarakan dalam firman Allah, Surat An Nisa ayat 59 yang artinya:
“Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”
Mengingat masing-masing individu dibesarkan secara berbeda-beda, perbedaan pendapat sebenarnya adalah hal yang wajar terjadi. Dan perbedaan pendapat ini tidak hanya terjadi antara manusia, namun juga diantara malaikat. Yaitu ketika seorang yang telah membunuh seratus orang, kemudian ia bertaubat dan pergi berhijrah lalu meninggal dunia dalam perjalanan. Terjadi perbedaan pendapat antara malaikat Rahmat dengan malaikat Adzab dalam menyikapinya. Malaikat Rahmat berpendapat bahwa orang ini adalah ahli surga karena telah bertaubat, sedang malaikat Adzab berpendapat bahwa orang ini adalah ahli neraka karena telah membunuh seratus orang dan belum berbuat kebaikan. Akhirnya Allah mengirimkan malaikat ketiga yang memutuskan perkara bahwa orang tersebut adalah ahli surga. Perbedaan pendapat dan sikap diantara kedua malaikat tersebut tidak sampai menyebabkan mereka berpecah belah, saling menghujat, bertikai dan saling menjatuhkan, justru mereka tetap saling menghormati dan menghargai. Kisah ini terdapat dalam riwayat-riwayat sahih.
Ayat Al Quran lain yang juga melarang kita untuk berselisih pendapat tercantum pada Surat Al Anfal ayat 46:
“Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.”
Kerugian dari berselisih pendapat antara lain menjauhkan rahmat Allah SWT atas diri kita, yang disebutkan pada Surat Huud ayat 188-199:
“Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berikhtilaf (berselisih pendapat). Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka … .”
Dengan berbekal ayat-ayat tersebut diatas, mari kita sebagai umat muslim saling menghargai perbedaan pendapat yang ada diantara kita. Hindari terjadinya konflik dan pertikaian hanya karena pendapat kita tidak sama. Sikapi perbedaan pendapat dengan toleransi. Ayo bersatu dalam keragaman dan membawa kaum muslim menuju kemenangan!
Artikel Sufi Thinking Reguler 28-28 Nov 09
Sufi Thinking, salah satu pelatihan yang paling dinantikan di Surau Baitul Amin, Sawangan kembali diadakan tepat satu hari setelah Hari Raya Idul Adha, pada tanggal 28-29 November 2009. Seperti pelatihan-pelatihan yang sebelumnya, pelatihan kali ini pun diliputi oleh rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang tinggi.
Pelatihan Sufi Thinking adalah salah satu dari sekian banyak pelatihan yang diadakan di Surau Baitul Amin. Namun pelatihan ini terbukti sebagai salah satu pelatihan yang paling ditunggu-tunggu.Hal ini dapat dilihat dari tingginya animo para ikhwan dari berbagai Surau atau IOP yang hendak mendaftar menjadi peserta. Bahkan dalam setiap pelatihan, selalu ada nama calon peserta di daftar tunggu.
Di penghujung bulan November ini, tepat satu hari setelah perayaan Hari Raya Idul Adha, Surau Baitul Amin kembali mengadakan Pelatihan Sufi Thinking Reguler. Ditengah masih ramainya suasana pemotongan hewan kurban, Pelatihan Sufi Thinking Reguler yang ke 27 diadakan. Peserta pada Pelatihan kali ini datang dari berbagai penjuru Indonesia seperti Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatera, Papua bahkan sampai dari negara tetangga Malaysia dengan total peserta 72 orang.
Hari Sabtu (28/11) pagi sebelum acara resmi dimulai, para peserta diwajibkan untuk melakukan pendaftaran ulang. Kemudian, acara secara resmi dibuka oleh pengurus III Surau Baitul Amin Abangda Akhmad Syukran Bestari, [ ] dengan membaca do’a dan memberikan kata sambutan. Bang Arie menjelaskan kepada peserta, bahwa Pelatihan ini bertujuan tidak hanya sebagai sarana silaturahim antar ikhwan tetapi juga untuk membentuk kita sebagai pribadi-pribadi Islam Khaffah sesuai cita-cita Mursyid Tarekat Naqshaybandiyah, YM. Drs. Ahmad Fajuani [ ].
Pelatihan kali ini mengambil tema ’Bersama Meraih Ridho Illahi’. Pada sesi pertama, ditayangkan video tentang perjuangan Rasullulah dalam menyebarkan syi’ar agama Islam dan betapa jayanya umat Islam pada jaman Beliau. Namun amat disayangkan, kondisi umat Islam pada jaman sekarang sudah jauh menurun. Hal ini disebabkan oleh berbagai kondisi, salah satunya adalah pertikaian diantara umat Islam itu sendiri. Pertikaian ini sering kali terjadi karena perbedaan fiqih antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Sedangkan apabila dikelompokkan ayat-ayat yang ada di Al-Quran, sesungguhnya fiqih (aturan, hukum) kecil sekali persentasinya, mungkin hanya sekitar 3%. Sisanya ada pada akidah sebesar 48,5% dan akhlak sebesar 48,5%.
Di sesi pertama, Abang Rahman Moenggah, SH., LLM. Mengajak peserta untuk mengenal apa itu paradigma, mind set dan bagaimana apabila kita bisa merubah paradigma kita, maka akan berubah juga prilaku kita menjadi manusia yang lebih baik. Abang Ramon, demikian beliau biasa dipanggil, menekankan pula dalam proses kita menjadi manusia yang lebih baik perlu mempunyai rujukan. Sebagai umat Islam, tentu rujukan kita tak lain tak bukan adalah Baginda Nabi Muhammad SAW. Proses merubah paradigma ini tidak mudah, karena hal tersebut sudah melekat pada diri kita hasil dari pendidikan dan budaya yang kita alami sejak kecil. Tapi apabila didasarkan dengan kecintaan kita pada Rasullulah dan menjadikan beliau sebagai tauladan, pastinya kita mampu.
Setelah sesi mengenai penjelasan apa itu paradigma dan menjadikan Rasullulah sebagai tauladan kita dalam menjadi manusia yang khusunul khatimah, peserta diajak masuk ke materi berikutnya, yaitu mengenal diri sendiri.
Di sesi ini, peserta diminta memilih satu diantara empat warna dasar yang paling disukai. Menjadi pemateri adalah Dr. Tun Kurniasih Bastaman, SpKj. atau akrab dipanggil Kak Tutun, di Surau Baitul Amin. Dengan mengenali diri dengan baik, kelebihan maupun kekurangan, kita dapat meningkatkan kelebihan kita dan mencari cara untuk memperbaiki kekurangan, demikian terang Kak Tutun sore itu. Peserta terlihat sangat bersemangat pada sesi ini, memisahkan diri dari kelompok khafilah yang telah dibentuk dan masuk pada kelompok sesuai dengan warna favorit. Para anggota dari masing-masing warna diminta untuk menuliskan berbagai kelebihan dan kekuarang yang mereka rasa sesuai dengan warna favorit. Setelah itu, mereka maju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasilnya. Kak Tutun dengan penuh canda kemudian menerangkan dari sisi ilmu psikologi, apa kelebihan dan kekuarangan dari masing-masing warna. Tak terasa waktu beranjak sore, sesi pengenalan diripun harus berakhir dan waktunya untuk melakukan ibadah sholat Ashar.
Selepas sholat Ashar, sesi dilanjutkan dengan materi Keteladanan Rasullulah. Adalah Abang Ir. Budi Rahmat Kardian pemateri pada sesi ini. Paradigma, mindset dan value atau nilai-nilai Islam ada landasan yang harus kita miliki. Karena sesungguhnya, sejak diangkat menjadi Rasul Allah, setiap perbuatan dan perkataan Rasul adalah Islam itu sendiri. Jika kita mampu untuk menjadi pribadi seperti muhammad, akan banyak replika muhammad-muhammad di muka bumi niscaya umat Islam akan menjadi umat yang jaya seperti pada jaman Nabi. Di akhir sesi, peserta menyadari bahwa menjadikan Rasullulah sebagai tauladan adalal hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Walaupun awalnya banyak argumen dan pernyataan yang mengatakan bahwa tidak mudah untuk menauladani Rasullulah, mengingat kita hidup di jaman yang berbeda dengan Beliau, namun setelah mendapat penjelasan bahwa yang kita perlukan hanya kemauan dan tekad yang kuat, tidak ada lagi keraguan diantara peserta.
Ba’da sholat Isya, diadakan acara api unggun dan peserta mendengarkan ’Review of the Day’ dari Abang Arie. Bang Arie kembali mengulang materi-materi yang telah disampaikan dari pagi hingga sore, dan menekankan pada perlunya kita bersyukur. Salah seorang peserta bertanya pada sesi Kak Tutun, “apa yang sebaiknya kita lakukan disaat mood kita sedang turun?” Pertanyaan ini dijawab kembali oleh Bang Arie, bahwa dalam keadaan apapun, kita perlu bersyukur. Acara api unggun malam itu diramaikan dengan berbagai pertunjukan dari masing-masing kelompok dan fasilitator.
Pada hari kedua, sesi pertama dibuka dengan materi Visi Misi yang dibawakan oleh Ab. Ardiansyah Aidil Arif. Sebagai manusia yang dilahirkan ke bumi, peserta diajak untuk mencari tahu apa visi misi pribadi mereka sebagai manusia, maupun sebagai hamba Allah. Sesi ini dilanjutkan dengan permainan diluar ruangan. Berbagai permainan yang telah disiapkan sedemikian rupa mengambil cerita dari hijrahnya Rasullulah dan para sahabat. Berbagai permainan ini dimaksud membuat peserta belajar bahwa dalam perjalanan kita menjadi pribadi yang khaffah tidaklah mudah. Diperlukan tekad yang kuat, lingkungan yang mendukung, strategi yang tepat serta kerja sama dari orang-orang di sekitar kita.
Di penghujung acara, Pelatihan Sufi Thinking Reguler ditutup dengan permainan lagi, kemudian peserta dan fasilitator saling bersalam-salaman. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan sangat terasa. Walaupun Pelatihan ini hanya berlangsung selama dua hari, namun rupanya meninggalkan kesan yang mendalam di diri peserta. Abang Taufik dari Jakarta menyampaikan kesan dan pesannya mengenai Pelatihan ini pada akhir acara, ”akhir pekan ini adalah akhir pekan yang terbaik dalam hidup saya. Karena pelatihan ini sangat bagus. Dampak kedepannya bukan hanya untuk saya tetapi juga untuk anak cucu saya”.
Apabila anda ikhwan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya dan belum mengikuti Pelatihan Sufi Thinking Reguler, jangan sampai ketinggalan. Baca terus www.baitulamin.org dan nantikan informasi mengenai jadwal Pelatihan Sufi Thinking Reguler berikutnya atau pelatihan-pelatihan lain yang pastinya sangat bermanfaat untuk kita.